Hatinya mudah remuk dan iba melihat para pemulung, Uba Pasaribu (45), bertekat bangkit dan menolong kaum marjinal. Ia tahu betul pahit-getirnya kehidupan pemulung.
“Saya ini pemulung. Jadi kalau melihat kawan-kawan yang hidup di bawah garis kemiskinan, hati saya remuk,” ungkapnya saat ditemui ketika menjenguk rekannya yang lumpuh, Orly Panjaitan (52), di Jalan Kangkung, Kecamatan Tanjung Gusta, Gang Nangka, Helvetia, Medan, tempo hari.
Uba mudah sedih tatkala mendengar dan menyaksikan kaum miskin, pemulung maupun kelompok marjinal kesusahan. Ia seperti ingin memberikan dirinya saja menanggung beban penderitaan orang lain. “Mereka itu sebenarnya layak mendapat bantuan dari pemerintah. Namun mereka banyak yang tidak mendapatkannya,” terangnya.
Uba mencontoh, ketika mereka sakit, yang mereka mampu membeli obat-obatan hanya obat dari kedai. Sementara, mereka membutuhkan penanganan lanjut ke rumah sakit. Umumnya mereka terbentur di dana. “Jadi mereka kebingungan, dari mana uang untuk berobat ke Rumah Sakit,” ungkapnya lagi.
Menemukan banyak fakta-fakta paradoks, memaksa Uba untuk berpikir bagaimana cara menolong kaum marjinal itu. Ia terbatas pengetahuan, kemampuan dan jaringan bahkan dana. Namun hatinya mengatakan, selalu ada solusi.
“Hati saya terpanggil untuk menolong mereka. Meski saya juga pemulung, hati saya iba tiap kali melihat rekan-rekan saya yang sangat kesusahan. Saya mudah iba. Karena, saya tau betul rasanya bagaimana menjadi orang tak punya. Sehingga, saya melakukannya, bukan karena memiliki banyak uang atau berada, namun karena tau betul, bagaimana menjadi orang yang tak berpunya,” ungkapnya.
Pengalaman sakit selama menjadi pemulung menjadi pelecut bagi Uba untuk selalu bekerja tak kenal lelah mendampingi kaum marjinal. Ia telah menetapkan satu moto hidupnya: “Berkarya Dalam Badai”.
Uba adalah satu bilangan dari ratusan pemulung di Medan. Namun ia mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi dan jadi pejuang bagi pemulung dan kaum marjinal lainnya. Ia ayah bagi dua anak. Kinerjanya selalu didukung dan disemangati perempuan bernama R Boru Sitangggang, istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Mereka berjuang bersama meningkatkan taraf hidup kelompok akar rumput.
Blusukan
Upaya mengadvokasi kaum marjinal, awalnya tidak gampang. Ada banyak hambatan dan tantangan. Kadang kala, tantangan datang dari pihak yang didampingi, namun tak jarang pula rintangan muncul dari aparatur pemerintah yang kurang respek dengan masyarakat marjinal.
Dalam pertemuan sore itu, Uba bercerita banyak bagaimana membangun jaringan pertemanan dan strategi mengadvokasi kaum marjinal. Cara menjaring mereka, kata dia, rajin blusukan. “Setiap hari saya bertemu mereka di tempat memulung. Di situ saya selalu bertukar pikiran, dan mengedukasi mereka. Sambil berbagi cerita dan persoalan lainnya. Saya belajar mendengarkan suara mereka,” ungkapnya.
Advokasi
Usai menjaring suara-suara kaum marjinal, Uba kemudian memikirkan bagaimana cara menolong mereka. Ada banyak hal teknis yang dilakukannya. Salah satunya, langsung membawa mereka sakit ke rumah sakit.
Tantangannya, banyak dari mereka tidak memiliki jaminan kesehatan. Kenapa mereka tidak punya? Menurut Uba, ada beberapa sebab. Pertama, kaum marjinal ini sebagian tidak memiliki dokumen kependudukan sepasti KTP, KK, akte lahir, akte kawin dan kartu BPJS Kesehatan. “Sebagian mereka sudah punya KK. Hanya persoalannya bagi mereka yang memiliki identitas, dilakukan pendampingan,” cetusnya.
Payah Urus Sendiri
Bukan itu saja, ketika para pemulung kesulitan dalam pengurusannya, Uba pun mengambil alih untuk mengurus sendiri. Ia mendampinginya sampai ke kantor BPJS. Tetapi, upaya pendampingan itu tidak semulus yang diharapkannya. Terkadang, di kantor BPJS, ia kerap mengalami kendala. Seperti aturan di BPJS disebutkan, dalam ke pengurusan harus menghadirkan orang yang bersangkutan. “Sementara, orang miskin yang bersangkutan, sudah sekarat di Rumah Sakit. Ini kan kendala,” imbuhnya.
Masalah berikutnya, ketika BPJS sudah selesai, timbul persoalan baru di rumah sakit. “Kita sering temukan persoalan, tiga hari pasien yang kita dampingi belum pulih kesehatannya, malah sudah disuruh pulang oleh rumah sakit,” ungkapnya.
Uba mengaku, dulunya hanya mengunakan ponsel biasa untuk dapat berkoordinasi dengan rekannya. Pelan-pelan ia belajar menggunakan aplikasi Facebook. Melalui media jejaring sosial besutan Zuckerberg itu, ia belajar menulis dan memosting setiap pendampingan yang dikerjakannya. “Saya diajari anak saya memakai fesbuk,” katanya bangga.
Semenjak postingan pertamanya yang langsung mendapat respon positif dari netizen, Uba semakin keranjingan menulis di fesbuk. Ia menyadari betul kekuatan internet dan media jejaring sosial. Padahal Uba bukan anak kuliahan. Pendidikannya hanya sampai tingkat sekolah dasar. Namun sejak kecil gemar membaca koran. Bila cukup uang, dia belikan koran. Hari demi hari pemberitaan di koran yang menyangkut kaum marjinal sengaja ia klipping. “Saya suka baca koran,” urainya.
Dari klippingan itu, dia mengadopsi bagaimana teknik penyajian tulisan, maupun mengambil foto-foto yang bercerita mengenai kemiskinan. Pelajaran itu, dipraktikkanya di Facebook, hingga akhirnya dapat mengetuk hati sebagian pembacanya.
“Saya hobi juga membaca, dan saya pernah berprinsip kalau ada uang saya usahakan membeli koran, karena masih bisa dijangkau harganya dibanding buku lainnya. Dari situ saya belajar menuliskannya di facebook,” jelasnya.
Dampak Tulisannya di FB
Tulisan Uba ternyata berdaya gugah. Beberapa postingannya sukses mengetuk pintu hati para dermawan. Ajakan-ajakannya untuk berlomba-lomba menolong orang direspon baik para Facebooker yang berteman dengannya. Para pembaca tertarik dan menghubungi Uba lalu mentransfer duit untuk disalurkan bagi kaum marjinal.
Bahkan, selain menuliskannya, Uba juga memanfaatkan aplikasi rekaman video di ponselnya. Uba belajar membuat video pendek. Ia seorang diri bergerilya mengunjungi masyarakat yang sependeritaan dengannya. Mewancarai, mengumpulkan data, mengoleksi foto lalu dijahitnya menjadi sebuah tulisan disertai foto. Walaupun itu hanya bisa dibagikannya di dinding facebooknya.
Baru-baru ini, berkat postingannya tentang Sri Mega Sitompul (36), warha miskin penyandang cacat permanen, berhasil dibantu Pemerintah Kota Medan. Semua bermula dari tulisannya di fesbuk yang menggugah hati teman-temannya di media sosial. Seorang pengguna FB atas nama Panusunan Simanjuntak berkewarganegaraan London langsung mengontaknya lalu mengirimkan uang senilai 17 juta untuk disampaikan ke Nalom Jakub Sitompul (72), orangtua dari Sri Mega Sitompul.
Menjaga Trust
Bagi Uba, orang-orang wajar mencurigainya soal dana. Namun, dia justru mampu menjaga kepercayaan masyarakat. Semisal, seorang donatur mentransfer sejumlah dana untuk disampaikan kepada yang membutuhkan itu, dia mampu membuatnya transparan. Membuktikan tidak dilakukannya pemotongan, dia rekam video bukti penyerahan, dan dishare kembali di Facebook.
Sehingga para donatur, dapat melihat melalui media sosial, kalau yang dititipkannya, semua sampai kepada penerima. Sekaligus, ia juga mencantumkan nomor telepon si penerima, sehinga donatur dapat mengonfirmasi langsung dengan orang yang disantuninya.
Uba juga tak menyangka betapa di era internet ini, kekuatan jejarang begitu dahsyat. Ia bertutur, belakangan ini ada sejumlah donatur yang mendukungnya untuk terus berkegiatan sosial. Salah satu donatur itu tak lain, Ketua IPPANRI (Ikatan Perempuan Peduli Anak Negeri), temanmya di Facebook dengana nama akun Mami Pur Ginting Petir, warga Binjai dan Ketua Badan Kerja Sama Wanita (BKW) Provinsi Sumut, Kemalawati Suwanto Ayau.
Ada juga orang yang tidak pernah bertemu dengannya mengirimkan bantuan biaya operasional untuk mendukung kegiatan sosialnya. Derasnya dukungan itu mendorong Uba untuk semakin optimis menolong sesama kaum marjinal. “Puji Tuhan kita masih dipakainya. Bahkan bnyak donatur yang membantu saudara-saudara kita kaum-kaum marginal,” terangnya.
Semakin lama, Uba kian mudah mengetahui jika sewaktu-waktu ada rekannya mengalami kesulitan, yakni melalui nomor HP yang diberikannya ke pemulung lainnya. “Saya juga membagikan nomor handphone saya di Facebook,” katanya.
Dengan segala keterbatasan, Uba tetap konsisten membantu rekan-rekannya. Meski hanya mengandalkan sepeda motor bututnya, dia berusaha blusukan dari satu kampung ke kampung lainnya, menemui langsung kaum-kaum terpinggirkan.
“Sepeda motor ini bermula saat saya menemukan mesin jahit di tempat memulung. Mesin jahit itu saya perbaiki. Lalu istrinya belajar menjahit. Sehingga menambah penghasilan kami. Lalu kami menabung hingga akhirnya bisa membeli sepeda motor bekas,” cetusnya.
Dicurigai
Walaupun mengerjakan hal baik, Uba kerap dicurigai sebagai calo. Tidak sedikit cercaan dan kecurigaan dialamatkan padanya tatkala mendampingi kaum marjinal mengurus identitas kependudukan. Tapi ia tidak pernah patah arang. Karena ia yakin apa yang dilakukannya murni untuk menolong orang lain.
Bentuk kecurigaan yang dirasakannya, saat sedang melakukan tugas sosial. Kecurigaan datang dari Aparatur Sipil Negara (ASN) tempat dia berurusan. Padahal, dianggapnya aksi sosial yang diembannya justru meringankan tugas pemerintah. Menurutnya, pemerintah pasti ada juga keterbatasannya dan tak mampu mengkover semua kaum marginal di lapangan.
“Saya kan di lapangan. Saya juga kaum marjinal. Jadi saya tahu dimana dan siapa saja yang hak-haknya terpinggirkan. Saya ini membantu pemerintah. Saya bukam musuh. Tapi kita saling membantu,” pungkasnya. (Red)
